Kultural Baru Hadapi Kemelut Pandemi COVID-19

Oleh Noer Fauzi Rachman*) dan Ilsa Nelwan**)


Akhir Desember 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapat laporan dari Pemerintah Tiongkok soal suatu pneumonia di Kota Wuhan engan sebab musabab tak jelas. WHO menyatakan darurat kesehatan masyarakat pada Januari setelah diskusi dan kunjungan ke Tiongkok.

Sampai akhir Januari bermunculan kasus penyakit ini di Thailand, Jepang, Korea, Hong Kong, Singapore dan Vietnam. Pemerintah Tiongkok memberlakukan karantina di Wuhan pada 22 Januari 2020. Lalu, Maret 2020, WHO menyatakan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) sebagai pandemi.

Sepanjang Januari-Februari 2020, beberapa pejabat Pemerintah Indonesia menyatakan tidak ada COVID-19 di Indonesia, dengan berbagai penjelasan. Februari 2020, Pemerintah Indonesia evakuasi WNI dari Wuhan, kapal pesiar di Yokohama, dan kapal pesiar selat durian Kepulauan Riau.

Resensi Buku: Petani Menolak Punah

Dimuat dalam Kompas.com  27 September 2020, 
https://www.kompas.id/baca/opini/2020/09/27/petani-menolak-punah 


Meskipun tetap menempatkan kelas petani sebagai pihak yang bersanding, bahkan bertanding ”melawan” kapitalisme pertanian, buku ini menonjolkan cara pandang mikro yang menyasar jantung produksi petani itu sendiri.


Judul                           : Petani dan Seni Bertani: Maklumat Chayanovian

Penulis                        : Jan Douwe van der Ploeg

Judul Asli                   : Peasants and The Art of Farming: A Chayanovian Manifesto

Penerbit                      : Insist Press, 2019

Ilustrasi Sampul       : Andi Bhatara dan Giovanni Dessy Austriningrum
Jumlah Halaman      : 226 + xxiv halaman

ISBN                            : 978-602-0857-87-9

 

Pada 24 September 2020 ini, Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 telah berumur enam puluh tahun, dirayakan sebagai Hari Tani oleh banyak kalangan, di atas landasan empiris yang pahit: berkurangnya jumlah petani. Sensus Pertanian  tahun 2003 ke 2013, menunjukkan jumlah rumah tangga usaha pertanian berkurang 5 juta, yaitu dari sekitar 31,17 juta menjadi sekitar 26,13 juta. Hasil Survei Pertanian antar Sensus (SUTAS) BPS tahun 2018 menunjukkan angka meningkat 27,68 juta. Berapa jumlah rumah tangga usaha pertanian di Sensus Pertanian tahun 2023 nanti, akan menjadi angka data statistik BPS yang layak dinantikan. 

Sebab utama berkurangnya rumat tangga petani adalah konsentrasi penguasaan tanah baik dengan konsesi-konsesi perkebunan, kehutanan, pertambangan, dll., maupun melalui transaksi perdagangan, perbandingan nilai hasil pertanian berbanding dengan biaya yang dikeluarkan tidak mampu membuat petani sejahtera, konversi tata guna tanah pertanian menjadi non pertanian, serta last but not least menurunnya minat generasi muda anak-anak petani untuk bertani. 

Ensiklopedia Studi dan Dokumentasi Agraria Indonesia: Sebuah Imajinasi

 

Noer Fauzi Rachman

Naskah ini dimuat dałam buku Adi D. Bahri dań Mohamad Shohibuddin (2020) Perjuangan Keadilan Agraria, Inspirasi Gunawan Wiradi. Bogor: Sajogyo Institute, AKATIGA, Bina Desa, PSA IPB, STPN Press. Halaman 111-120. 

Draft pertama naskah ini pada mulanya dibuat pada 1 Juni 2016 dan diedarkan secara sangat terbatas untuk mendapat penyempurnaan gagasan, lalu diendapkan hingga diedarkan lagi pada awal tahun 2019. Dari berbagai masukan, yang tidak bisa saya sebut satu-per-satu, saya menyempurnakan naskahnya pada tengah tahun 2019 dalam rangka membangkitkan minat dan rasa keperluan untuk bergotong-royong membuat Ensiklopedia Dokumentasi Studi Agraria Indonesia (EDSAI).


Pendahuluan

Dokumentasi agraria yang dimaksud disini mencakup segala bentuk koleksi naskah yang merekam pelaku, peristiwa, situasi, narasi, dan lainnya, berkenaan cara-cara bagaimana orang, kelompok orang dan badan hukum rakyat berhubungan dengan  bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya; dan hubungan-hubungan sosial antar mereka, termasuk melalui perbuatan-perbuatan mengenai bumi air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria


Noer Fauzi Rachman (2020) "Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria", Kompas 5 Juni 2020 

Untuk mengunduh naskah seluruhnya secara bebas: https://www.kompas.id/baca/opini/2020/06/05/mengenang-sediono-mp-tjondronegoro-dan-reforma-agraria


Di ujung Pendahuluan dari buku Dua Abad Penguasaan TanahPola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa, Sediono MP Tjondronegoro berseru bahwa “… ketekunan Indonesia untuk mencari pemecahan yang tuntas (tentunya yang dimaksudnya adalah terhadap masalah penguasaan tanah, NFR) perlu lebih dirangsang” (Tjondronegoro 1984:xvii).

Buku itu benar-benar menginspirasi kami, generasi pemulai dan pemula aktivisme agraria. Kami mendiskusikan, mendebatkan, menuliskan hingga merujuknya ketika menulis karya kami, baik untuk bahan latihan dan kursus bagi para penggerak rakyat maupun tulisan di koran, majalah, jurnal dan buku.

Kapitalisme Pembuka Kotak Pandora? Terganggunya Kebudayaan Agraris Tradisional dan Penyebaran Zoonosis


Noer Fauzi Rachman (2020) "Kapitalisme Pembuka Kotak Pandora, Terganggunya Kebudayaan Agraris Tradisional dan Penyebaran Zoonosis", dalam  Covid-19, Perubahan Iklim dan Akses Rakyat Terhadap Keadilan - Prosiding Konferensi Nasional "Hak Asasi Manusia, Kebudayaan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19: Tantangan untuk Keilmuan Hukum dan Sosial".  Volume 4. Myrna A. Safitri, Asep Yunan Firdaus, Agung Wibowo (Penyunting). Jakarta: Media Sains Indonesia, 2020. Halaman 1-42

Naskah sepenuhnya secara bebas data diunduh dari https://sisdam.univpancasila.ac.id/uploads/repository/lampiran/DokumenLampiran-28062021135453.pdf 


 

Lukisan Pandora opening her box (James Gillray, 1809). James Gillray (1756-1815) adalah pembuat karikatur dan penatawajah barang cetakan yang terkenal atas satir sosial dan politik yang dibuatnya kisaran 1792 hingga 1810. Banyak karyanya dikoleksi di the National Portrait Gallery at London.  Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pandora_opening_her_box_by_James_Gillray.jpg (akses 25/06/2020)  

 

  

 “... Selamatlah rakyatnya, Selamatlah putranya,

Pulaunya, lautnya, semuanya. 

Majulah Negerinya, Majulah pandunya,

Untuk Indonesia Raya. ...”

(Bait ketiga, stanza ketiga, Lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dimuat dalam mlampiran Undang-undang No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan).  

 


 

I. Pembuka 

Zeus adalah dewa penguasa Dunia. Karena mencuri api dari surga, dan kemudian api itu diberikan pada manusia, Zeus menghukum Promotheus secara brutal, mengikatnya di tebing dan membiarkan burung-buruh memakan tubuhnya. Zeus kemudian memerintahkan Hephaestus, dewa kerajinan tangan, untuk menciptakan seorang perempuan pertama yang cantik di dunia dari tanah liat, dinamai Pandora, yang secara harfiah berarti hadiah yang melimpah, lalu memberinya nyawa dan suara. Para dewa memberkahinya banyak dengan keistimewaan: Aphrodite (dewi cinta) memberinya kecantikan dan pesona-pesona lain, dewa-dewi Horae (para penguasa waktu) meletakkan mahkota dari rangkaian bunga seputih salju yang harum semerbak di kepalanya.  Apollo memberinya kemampuan musik, Hermes memberinya kecakapan membujuk, dan Athena memberkatinya dengan segala gaun-gaun indah dengan perhiasan yang berkilau, dan sebagainya. 

COVID-19, Pemberontakan Mikroba dan Kemelut ‘the Tyranny of Emergency’

 

The Chinese Centre for Disease Control and Prevention (CCDC) pada 7 January 2020 mengumumkan kepastian penyebab wabah baru di kota Wuhan, Tiongkok, adalah Virus Corona baru yang dinamakan SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2). World Heath Organization (WHO) lalu memberi nama penyakit ini sebagai COVID-19 (Coronavirus Disease 2019), sebagaimana disampaikan Direktur WHO pada 11 Februari 2020.[1] Angka 19 adalah tanda dari 2019, tahun ketika wabah pertama kali merebak di Wuhan.

COVID-19 adalah jenis penyakit baru disebabkan oleh satu jenis Virus Corona baru. Virus  ini sangat mudah menular. Mulanya, pada 31 Desember 2019, 27 kasus radang paru-paru pneumonia dengan etiologi yang tak diketahui teridentifikasi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok. Kota Wuhan adalah kota terpadat di Tiongkok tengah dengan penduduk melebihi 11 juta.

Perubahan Identitas Kolektif dan Strategi Gerakan Sosial Pedesaan

 


Noer Fauzi Rachman 

Sambutan untuk buku Delima Silalahi (2020) Tombak Haminjon do Ngolu Nami: Masyarakat Adat Batak Pandumaan dan Sipituhuta Merebut Kembali Ruang Hidupnya. Yogyakarta: Insist Press.


 

Buku ini mengangkat suatu tema yang penting, dan saya duga akan satu topik yang menarik perhatian para pelaku dan peneliti gerakan sosial di Indonesia, yakni identitas kolektif dari suatu kelompok gerakan sosial yang berubah dari “petani” menjadi “masyarakat adat”. Cara bagaimana pembentukan identitas kolektif masyarakat adat itu berlangsung perlu dipahami sebagai menjadi penanda pokok dari strategi dan jalan tempuh baru dari suatu gerakan sosial tertentu menghadapi berubahnya konfigurasi dan cara kerja dari kekuatan-kekuatan yang dihadapinya. 

Dalam buku Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Noer Fauzi 2005), saya menunjukkan suatu gerakan sosial di Ekuador, Amerika Latin, yang mengubah identitas kolektif dari campesinos (petani) menjadi pueblo indiginas (indigenous peoples)dalam skala sub-nasional. Ekuador  terletak di antara Peru dan Kolombia serta lautan Atlantik. dengan  luasan 272.045 km2 dan penduduk berjumlah 13.710.234 orang. Komposisi ras di Ekuador didominasi oleh Mestiso (campuran antara kulit putih dengan Indian)  55%, orang-orang Indian 25%, kulit putih (spanyol) 10% dan kulit hitam 10%.